5 Oktober 2021

Aksi Nyata modul 3.2

 

Aksi Nyata 3.2.a.10

Achmad Hufron, S.Pd.Jas, M.Pd

CGP Angkatan 2 Kabupaten Kebumen

SDN 1 Selang

 

A.      Latar Belakang

           Kegiatan program pendidikan guru penggerak ditujukan untuk melakukan transformasi pendidikan, yaitu menciptakan pemimpin dalam pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang berpusat pada murid yaitu memenuhi kebutuhan murid .Tujuan utama yang lainnya adalah bagaimana program ini akan melahirkan pelajar Pancasila yaitu pelajar yang memiliki karakteristik beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan berahlak mulia, memiliki kemandirian , kretaif, bernalarkritis, gotong royong dan berkebhinekaan global.

           Pengambilan keputusan juga merupakan langkah penting untuk menentukan program yang dapat dilaksanakan di sekolah terutama program yang berdampak pada murid .Karena hakekat dari pemimpin pembelajaran adalah pemimpin yang berpihak pada murid .Sebelum kita melakukan sebuah program yang berdampak pada murid maka langkah penting yang harus dilakukan adalah pemetaan aset yang dimiliki oleh sekolah .Pemetaan aset berpedoman pada prinsip inquiri apresiatif .Hal ini dilakukan karena seringnya kita membuat program berdasarkan kelemahan atau permasalahan yang ada sehingga aset atau kekuatan sekolah tidak tergali atau terlupakan. Setelah melakukan pemetaan asset diharapkan program yang dibuat adalah program yang dapat memberikan dampak pada murid sehingga akan melahirkan murid yang merdeka. Merdeka dalam arti, merdeka untuk belajar dan mengembangkan potensinya.

           Kepemimpinan merupakan hal yang harus ditumbuhkan pada diri seorang siswa. Jiwa pemimpin ini harus ditumbuhkan yaitu sejak masih di sekolah, hal ini dilakukan agar siswa kelak dapat mewarisi kepemimpinan bangsa bahkan dunia. Masa pembelajaran jarak jauh sekolah merupakan masa yang tepat bagi siswa untuk dapat mengasah jiwa kepemimpinan. Murid dapat menjadikan lingkungan masayarakat sebagai sarana praktek penerapan kepemimpinan. Maka akan didapatkan hasil bahwa salah satu sarana yang dapat dilakukan untuk mengasah jiwa kepemimpinan siswa selama di rumah adalah dengan membekali murid melalui kegiatan pembiasaan di kelas. Selain kepemimpinan, siswa juga diajarkan untuk pembiasaan karakter positifnya terutama peduli lingkungan hal ini dibiasakan dengan program “Operasi Semut”.

B.       Deskripsi Aksi Nyata

 Kegiatan aksi nyata ini berupa kegiatan pembiasaan kepemimpinan dan kegiatan “Operasi Semut”. Kegiatan ini berupa kuis yang dilakukan sebelum pelajaran dan operasi semut adalah bersama-sama membersihkan lingkungan secara serentak. Untukkegiatan kepemimpinan siswa dibiasakan secara bergantian untuk mepmpin dan dipimpin oleh teman-temannya.

C.      Hasil Aksi Nyata

Aksi nyata modul 3.2.a.10 yaitu kegiatan pembiasaan untuk melatih kepemimpinan dan cinta lingkungan yang berupa pemberian ruang kepada siswa untuk berlatih memimpin teman-temannya dan membiasakan siswa untuk mencintai lingkungan dengan secara rutin menjaga kebersihan lingkungan. hal ini dilakukan sesuai dengan jam olahraga masing-masing kelas setiap paginya. dari hasil tersebut halaman terasa nyaman, bersih dan indah untuk dipandang. Kegiatan ini  juga disambut antusias oleh murid dan orang tua. Disamping siswa lebih percaya diri. Juga lingkungan sekolah menjadi lebih bersih.

D.      Pembelajaran Yang Didapat

1.        Perasaan Saat Melaksanakan Aksi Nyata

Perasaan yang dirasakan saat merencanakan dan melaksanakan aksi nyata adalah merasa tertantang karena mengajak siswa untuk melatih kepemimpinan merupakan hal yang harus menguatkan mental. Sehingga sebelum pelaksanaan harus dapat menguatkan mental siswa supaya percaya diri untuk memipin temannya. Selain itu kebiasaan siswa sekarang yang sedikit manja menjadi tantangan sendiri ketika mengajak mereka untuk membersihkan lingkungan bersama-sama.

2.        Kendala/Hambatan

Dalam pelaksanaan aksi nyata ini secara umum berkangsung dengan baik dan mendapatkan hasil sesuai harapan, akan tetapi ada beberapa catatan yang menjadi bahan perbaikan  yaitu :

a.         Ada beberapa siswa yang tetap tidak mau untuk latihan memimpin

b.        Ada beberapa siswa yang merasa jijik dengan sampah dan mereka tidak mau ikut membersihkan lingkungan.

3.        Keberhasilan

Banyak keberhasilan yang didapatkan dari hasil aksi nyata ini diantaranya adalah:

a.         Meningkatkan kepercayaan diri siswa

b.        Lingkungan menjadi bersih

c.         Siswa menjadi peduli lingkungan

E.       Rencana Perbaikan

Rencana perbaikan yang dilakukan adalah :

1.        Pembiasaan lebih disosialisasikan kepada warga sekolah

2.        Hasil dokumentasi implementasi program kepemimpinan diupload ke media sekolah atau media social sebagai sarana sosialisasi

F.       Lampiran Kegiatan


 

 

 

 

                                         Latihan Memimpin

 


 


 

                   Peduli Lingkungan

15 September 2021

Koneksi Antar Materi Modul 3.1

 



KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARA

Oleh: Achmad Hufron (CGP Angk 2 Kab. Kebumen)



·         Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal  dengan semboyan ing ngarso sung toladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri Handayani  artinya di depan memberi teladan, tengah membangun motivasi/dorongan, dibelakang memberi dukungan.  Berdasarkan hal tersebut diatas guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutunya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan

·         Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

·         Pada prosesnya “menuntun” anak akan diberi kebebasan  namun guru sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahanyakan dirinya. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan  agar anak menemukan kemerdekaan dalam  yang akan berdampak  keputusan yang tepat  dan bertanggung jawab. Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu pernah mengalam idilema etika atau bujukan moral pada sebuah keputusan yang diambil saat menangani kasus murid  atau rekan sejawat  komunitas di sekolah, dengan mempertimbangan nilai benar vs benar (situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan diamana dua pilihan itu secara moral benar tetapi bertentangan), benar vs salah (seseorang membuat keputusan antara benar atau salah)

·         Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

·         Dalam aspek pembelajaran dikelas guru sebagai pembawa agen perubahan harus bisa mengetahui kebutuhan belajar murid sekaligus sebagai memberi contoh yang baik bagi siswa memahami karakter belajar siswa serta kondisi social emosional sebagai pemimpin pembelajaran dikelas. Dalam hal ini juga untuk terciptanya profil pelajar Pancasila siswa  harus bisa menyelesaiakan sendiri persoalan belajarnya di kelas yang merupakan dilemma bagi mereka, dan di sinilah penting pendekatan Coaching, dimana guru sebagai coach memberi pertanyaan pemantik yang akan dijawab oleh siswa untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang dilaminya terutama yang merupakan dilema baginya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran selalu bersedia meluangkan waktu jika siswa membutuhkan, atau jika meihat ada perubahan belajar yang menurun pada siswa. Coaching dan itu tidak terlepas dari komunikasi yang baik antara coach dan coachee, Harapan coaching dapat mengatasai masalah belajar siswa.

·         Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

·         Seorang pendidik harus bisa melihat bagaiamana persoalan tersebut apakah merupakan dilemma etika atau merupakan bujukan moral, nilai-nilai yang yang akan diambilpun merupakan nilai yang merupakan proses kegiatan yang merupakan titik temunya adalah sebagai pemimpin pembelajaran tetap dengan berbagai cara akan menuntun siswa tersebut kearah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan. Keptusan yang diambil merupakan keputusan yang bertanggung jawab.

·         Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

·         Pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran  tentunya akan berdampak postif, aman, dan nyaman apabila kita bisa melihat kondisi saat mana kita akan mengambil sebuah keputusan yang tentu yang jika itu adalah dilemma maka kita bisa meminimalisir delema tersebut agar dalam pengambilan yang bersifat dilemma itu tidak terlalu berpengaruh. Dan jika merupakan suatu bujukan moral kita harus pandai bahwa hal yang dilakukan salah dan nantinnya guru sebagai pemimpin pembelajaran akan dengan bijak membuat keputusan namum tertap membinmbing anak menujuh ke pengambilan keputusan tepat baik untuk guru maupun untuk siswa. Dalam hal ini siswa tetap merasa bahwa guru adalah seorang pemimpin yang mampu membuat situasi kondusif, aman dan nyaman di lingkungan sekolah maupun sekitarnya.

·         Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

·         Sebagai makluk social dan sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan suatu keputusan tidak akan luput dari dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan  situasional, yaitu antara benar-benar  memegang  aturan demi suatu keadialan. Namun terkadang kita susah membedakan mana yang merupakan dilema etika dan bujukan moral, misalnya saja kasus berbohong yang sudah pasti merupakan tindakan salah , meskipun tujuannya baik tetap saja merupakan kesalahan.   Adapun hal yang perlu diperhatikan  sebelum mengambil sebuah keputusan dalam dilema etika, 4 paradigma yaitu: (1) Individu lawan masyarakat (individual vs community); (2) Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy); (3) Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty); dan (4) Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Selain itu ada tiga prinsip yang yang membantu menghadapi pilihan yang penuh tantangan (Kidder ,2009, hal 144) ketiga prinsip itu adalah: (1) Berpikir berbasis hasil akhir (ends-based Thingking);          (2) Berpikir berbasis peraturan (rule base thingking); dan (3) Berpikir berbasis rasa peduli (care base thingking).

·         Dan bagaimana cara mengujinya? Ini adalah  9 langkah yang telah disusun secara berurutan

1.         Mengenali ada nilai-nilaia yang saling bertentangan dalam situasi ini

2.         Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3.         Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini

4.         Pengujian benar atau salah (Uji legal, Uji Regulasi/Standar Profesiaonal, Uji intuisi, Uji halaman Depan Koran, Uji Panutan/Idola )

5.         Pengujian paradigm benar atau salah

6.         Prinsip pengambilan keputusan

7.         Investigasi Opsi Trilema

8.         Buat keputusan

9.         Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

·         Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

·         Sebagai seorang pendidik yang merupakan salah satu calaon guru penggerak  saya merasa terbantu dengan penjelasan materi dari modul 3.1 sebab sebelumnya kita sering menemukan dilema namun kita belum bisa mamaneg sebuah keputusan dengan baik baik terutama saat menemuka masalah belajar pada siswa, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul pendidik sudah seharusnya meberikan keputusan yang bersifat positif, membuat siswa merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk  memerdekan siswa dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka.

·         Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

1.         Dengan memberi nilai-nilai positif, menciptakan rasa nyaman pada siswa merupakan motivasi seorang pendidik  dalam mengambil keputusan. Seorang pendidik dengan berbagai cara pasti akan memberikan yang terbaik untuk siswanya oleh karena itu keputusan yang baik pula untuk perkembangan siswanya.

2.         kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran  modul materi ini dan keterkaitan dengan modul-modul sebelumnnya.

·         Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

·         Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya merupakan suatu tidak terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar pada murid, Ki Hajar Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya  sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu juga dimana proses pembelajaran di seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada anak serta mengelolah kompertensi social emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pendekatan Coaching juga merupakan salah satu pendekatan yang  membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri dan hal inilah yang merupakan salah satu trik sebagai seorang pendidik bisa mengetahui permasalahan yang dialami oleh siswa lewat pertanyaan-pemantik saat coaching. Sebagai seorang guru penggerak juga harus mengetahui permasalahan yang dialami oleh rekan sejawat dalam proses pembelajaran dan coahing dapat menemukan jawaban atas setiap pertanyaan untuk menemukan solusi maka terciptalah budaya postif pada lingkungan belajar di sekolah dan komunitas praktisi. Para pendidik yang mampu membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan cita-cita guru masa depan, dan proses pengambilan keptusan berdasrakan dilema etika.

·          

 


24 Juli 2021

Aksi nyata modul 1.4 CGP angkatan 2

 

AKSI NYATA BUDAYA POSITIF DI KELAS

MENUMBUHKAN BUDAYA POSITIF  UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BELAJAR DAN KENYAMANAN SERTA KESOPANAN PESERTA DIDIK

DISUSUN OLEH :

ACHMAD HUFRON,S.Pd.Jas

CGP ANGKATAN 2 KABUPATEN KEBUMEN

 

A.   LATAR BELAKANG

Demi terciptanya dunia pendidikan yang  sesuai dengan filosofi KHD dimana peserta didik sebagai rakyat memiliki kekuasaan penuh, semua yang diberikan pada peserta didik adalah demi  untuk kebaikan peserta didik. Demikian halnya di dalam kelas, semua bentuk regulasi di kelas disusun atas kesepakatan peserta didik dengan guru agar peserta didik dapat belajar dengan bahagia, nyaman dan tenang.

 

B.    PELAKSANAAN AKSI NYATA

Proses pelaksanaan pembuatan  kesepakatan kelas sebagai aksi nyata menumbuhkan budaya positif di kelas dilaksanakan secara daring. Guru menghubungi wali siswa dan peserta didik untuk menyampaikan rencana kegiatan aksi nyata.  Dalam pembuatan kesepakatan kelas ini peserta didik diberi kesempatan untuk menyampaikan aspirasinya. Melalui  group WA dan Google meet Guru dan peserta didik membuat kesepakatan kelas, Masing-masing siswa menyampaikan pendapatnya. Guru mencatat pendapat siswa tentang kesepakan kelas yang harus dilaksanakan, kemudian guru merangkumnya.  Tidak hanya murid yang menyampaikan pendapatnya namun guru juga menyampaikan pendapatnya. Disinilah system demokrasi terwujud. Hasil kesepakatan yang telah disetujui kemudian diketik dan digandakan untuk dibagikan kesiswa. Kesepakatan kelas ditandatangi oleh guru dan peserta didik. Guru menyampaikan hasil kesepakatan kelas untuk diketahui oleh Kepala Sekolah dan wali peserta didik.

 

C.    HASIL AKSI NYATA

Kesepakatan kelas tersusun sesuai dengan yang diharapkan. Peserta didik menjadi lebih berani mengungkapkan pendapatnya,  peserta didik menjadi lebih faham bagaimana mengungkapkan pendapat saat di depan forum dengan baik. Guru menyampaikan kepada peserta didik bahwa kesepakatan yang telah dibuat wajib untuk dilaksanakan oleh semua peserta didik demi tercapainya pembelajaran yang menyenangkan dan lebih mengutamakan kepentingan peserta didik.

 

 

D.   PEMBELAJARAN YANG DIAMBIL

Pembuatan kesepaktan kelas merupakan cara paling sederhana untuk menerapkan buadaya positif yang berpihak pada peserta didik. Guru berperan sebagai penuntun yaitu menuntun dan membimbing peserta didik dalam melaksanakan diskusi secara mandiri. Hasil kesepakatan diskusi akan menjadi peraturan kelas demi  tercapainya  pembelajaran di kelas yang nyaman dan sesuai keinginan peserta didik. Dengan terbiasanya diskusi pembuatan  kesepakatan peserta didik akan lebih aktif dan kreatif. Karena kesepakatan ini dibuat oleh sendiri maka peserta didik akan lebih memperhatikan dalam pelaksanaanya.

 

E.    RENCANA PERBAIKAN

Supaya  kesepakatan berlangsung lebih tertib, ada baiknya peserta didik mengungkapkan pendapat sesuai nomor urut  di kelas. Guru lebih memperhatikan lagi apa yang dibutuhkan peserta didik.

 

F.    DOKUMENTASI

Dokumentasi pelaksaaan pembuatan kesepakatan di kelas







27 Juni 2021

Koneksi Antar materi Modul 1.4 Budaya positif

 

KONEKSI ANTAR MATERI

BUDAYA POSITIF MODUL 1.4

Disusun Oleh : Achmad Hufron, S.Pd.Jas, M.Pd 

Fasilitator: Imyatun Muayanah, S.Pd

Pendamping Praktik: Utami Puji Astuti, S.Pd


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ki Hajar dewantara berpendapat bahwa, pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat. KHD memberikan perbedaan antara pembelajaran dan pengajaran. Beliau menerangkan bahwa pendidikan adalah tuntutan bagi seluruh kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya. Sedang Pengajaran adalah Pendidikan dengan cara memberi ilmu atau pengetahuan agar bermanfaat bagi kehidupan lahir dan batin.

Sekolah perlu mengembangkan budaya positif karena ha ini dapat menjadi tolak ukur mutu di sekolah tersebut. Menurut Nyoman S.D (2021) Budaya positif sekolah adalah sekumpulan nilai yang melandasi perilaku, tradisi, kebiasaan keseharian, dan symbol-simbol yang dipraktekkan oleh kepala sekolah, guru, petugas administrasi, siswa dan masyarakat sekitar sekolah. 

Budaya positif yang dirancang diharapkan menjadi sebuah perwujudan dari visi sekolah. Peran guru sangat besar untuk mewujudkannya dengan sauri tauladan yang baik dan mengembangkan sikap dalam pembelajaran sesuai dengan nilai dan perannya maka pencapaian sebuah visi sekolah dapat terwujud. Untuk mewujudkan visi sekolah membutuhkan kolaborasi setiap warga sekolah sesuai dengan tupoksinya masing-masing menggunakan pendekatan Inkuiri Apresiatif dan model BAGJA. Nyoman S.D (2021) juga menjelaskan bahwa Inti dari pendekatan inkuiri apresiatif adalah nilai positif yang telah ada dan dikembangkan secara kolaboratif. Alur Bagja sendiri diawali dengan Buat pertanyaan, ambil tindakan, gali impian, jabarkan rencana, dan atur eksekusi. Berpijak dari hal positif yang ada di sekolah, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap individu dalam komunitas. Hal tersebut sejalan dengan prinsip Trikon, Ki Hajar Dewantara dimana perubahan bersifat kontinu (berkesinambungan), konvergen (universal), dan konsentris (kontekstual)

 

Rujukan:

Nyoman S.D (2021). https://www.sahabatsains.com/2020/12/14a9-koneksi-antar-materi-pentingnya.html diakses tanggal 28 Juni 2021 pukul 11.00 wib.

Menguak Sejarah Sesepuh Kebumen

Kebumen tempo dulu (saat masih bernama Panjer ) sangat erat dengan dinamika kerajaan Mataram Islam . Dua dinasti atau trah besar yang paling...