2 November 2021

Aksi Nyata Modul 3.3

 Aksi Nyata Modul 3.3. Pengelolaan Program yang Berdampak pada Murid

Oleh: Achmad Hufron, S.Pd.Jas

CGP Angkatan 2 Kabupaten Kebumen

Fasilitator: Imyatun Muayanah, S.Pd

 

Fact (Fakta)

A.      Latar Belakang Aksi Nyata

Gerakan pengembangan pembentukan karakter menjadi hal urgen untuk dilakukan di dunia pendidikan khususnya sekolah. Gerakan ini akan mendorong anak untuk masuk ke dunia yang penuh makna dan menjadikan dunia berada di genggaman tangannya.  Di era serba virtual ini kondisi anak-anak mengalami penurunan dalam karakter yang sering disebut degradasi moral.

Di zaman sekarang  sangat jarang sekali anak bersapa pada guru ketika berpas-pasan di manapun khususnya tempat publik. Mereka lebih cenderung berpaling dan mengalihkan pandangan. Seyogyanya guru sebagai panutan yang akan digugu dan ditiru menyapa duluan sebagai penanaman keteladan untuk membiasakan budaya positif. Mereka tidak salah, mungkin karena penanaman dan pembiasaan karakter positif kurang terpatri dalam diri mereka.

Hakekat dari pemimpin pembelajaran adalah pemimpin yang berpihak pada murid .Sebelum kita melakukan sebuah program yang berdampak pada murid maka langkah penting yang harus dilakukan adalah pemetaan aset yang dimiliki oleh sekolah .Pemetaan aset berpedoman pada prinsip inquiri apresiatif .Hal ini dilakukan karena seringnya kita membuat program berdasarkan kelemahan atau permasalahan yang ada sehingga aset atau kekuatan sekolah tidak tergali atau terlupakan. Setelah melakukan pemetaan asset diharapkan program yang dibuat adalah program yang dapat memberikan dampak pada murid sehingga akan melahirkan murid yang merdeka. Merdeka dalam arti, merdeka untuk belajar dan mengembangkan potensinya. Program yang dibuat seyogyanya dikelola dengan pengelolaan program yang berdampak pada murid.

Kepemimpinan merupakan hal yang harus ditumbuhkan pada diri seorang siswa. Jiwa pemimpin ini harus ditumbuhkan yaitu sejak masih di sekolah, hal ini dilakukan agar siswa kelak dapat mewarisi kepemimpinan bangsa bahkan dunia. Masa pembelajaran jarak jauh sekolah merupakan masa yang tepat bagi siswa untuk dapat mengasah jiwa kepemimpinan. Siswa dapat menjadikan lingkungan masayarakat sebagai sarana praktek penerapan kepemimpinan. Maka akan didapatkan hasil bahwa salah satu sarana yang dapat dilakukan untuk mengasah jiwa kepemimpinan siswa selama di rumah adalah dengan membekali murid melalui kegiatan pembiasaan di kelas. Selain kepemimpinan, siswa juga diajarkan untuk pembiasaan karakter positifnya terutama pada kemandirian dan percaya diri. Hal ini dikembangkan melalui kegiatan MADIMAPI (mau dipimpin dan mau memimpin).

Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan penguatan pendidikan karakter mandiri, percaya diri dan mempunyai jiwa kepemimpinan. Kegiatan ini diimplementasikan di SD Negeri 1 Selang. Sekolah yang memiliki potensi/kekuatan/asset/sumber daya yang akan mendukung terlaksananya kegiatan MADIMAPI. Berdasarkan hasil pemetaan asset yang dimiliki SD Negeri 1 Selang Adalah sebagai berikut:

1.        Modal  Manusia : Guru, Siswa, Kepala Sekolah, Orang Tua

2.        Modal Sosial : Komunitas Keagamaan, TPQ

3.        Modal Fisik : Sarana Prasarana, Ruangan

4.        Modal Lingkungan Alam : Lapangan, Suasana yang nyaman, keadaan kondusif

5.        Modal Finansial : Dana BOS

6.        Modal Politik : Pemerintah desa mendukung penuh kegiatan sekolah

7.        Modal Agama dan Budaya : Banyak tokoh agama di sekitar sekolah.

B.       Alasan Melakukan Aksi Nyata

Yang paling menarik adalah murid mampu memunculkan rasa percaya diri, mandiri dan jiwa kepemimpinan di depan murid lainnya. Murid berani untuk memimpin dalam proses kegiatan belajar mengajar. Dengan menerapkan pendekatan Inkuiri Apresaiatif tahapan BAGJA kita akan menemukan data valid alasan mengapa kegiatan MADIMAPI diterapkan di SD Negeri 1 Selang. Berikut  adalah Deskripsi Tahapan BAGJA kegiatan MADIMAPI:

1.        Buat pertanyaan

Bagaimana cara meningkatkan kepemimpinan siswa di sekolah?

Jawaban:

Melalui program kegiatan pembiasaan MADIMAPI.

2.        Ambil pelajaran

a.         Program kegiatan pembiasaan MADIMAPI sebagai upaya menumbuhkan Penguatan pendidikan karakter mandiri, percaya diri, dan kepemimpinan pada Murid.

b.         Kegiatan yang menyenangkan dan berpihak pada murid di lingkungan sekolah.

c.         Adanya peningkatan kompetensi murid dan guru. Murid dan guru terlibat aktif dalam program kegiatan pembiasaan MADIMAPI dan mengembangkan program yang sudah berjalan.

d.        Murid lebih terlatih untuk memimpin di depan.

e.         Murid memiliki hak sama untuk berperan dalam kegiatan karena dijadwalkan secara bergiliram

3.        Gali mimpi

Program kegiatan pembiasaan MADIMAPI direalisasikan di awal bulan Oktober 2021. Setiap anak memiliki hak yang sama untuk memimpin dan dipimpin dengan bergantian. Pendampingan program kegiatan pembiasaan MADIMAPI dilakukan oleh guru secara bergiliran tidak hanya guru PJOK. Orang tua memantau perkembangan anak di rumah dari hasil program kegiatan pembiasaan MADIMAPI apakah sudah ada perkembangan jiwa kepemimpinannya dan rasa percaya dirinya atau belum. Mengadakan kuis untuk menentukan siswa yang akan memimpin kegiatan berikutnya. Bagi siswa yang dapat menjawab kuis dengan tepat maka berhak untuk menjadi pemimpin dikegiatan berukutnya.

4.        Jabarkan rencana

Program kegiatan yang telah dibuat akan didiskusikan kepada kepala sekolah dan guru OJOK yang biasa menanganinya serta berkolaborasi dengan masing-masing guru kelas.

Setelah mendapatkan rekomendasi kepala sekolah untuk dilaksanakan, selanjutnya Penyusunan Kepanitiaan Program dan Pembagian Tugas. Mensosialisasikan kepada seluruh warga sekolah baik secara lisan di rapat dan diumumkan maupun secara tertulis dengan pengumuman di group WA. Mendokumentasikan setiap kegiatan MADIMAPI, mengapresiasi murid yang berani memimpin. Yang terakhir adalah monitoring dan evaluasi kegiatan.

5.        Atur Eksekusi (Menentukan tim inti program)

a.         Penanggung Jawab kegiatan: Kepala sekolah

b.         Pengarah : Dewan guru

c.         Koordinator Acara: Ketua tim pengembang

d.        Penanggung Jawab sie Acara: Guru

e.         Laporan dibuat oleh guru PJOK berkolaborasi dengan wali kelas.

f.          Koordinasi dilakukan setiap rapat rutin guru

g.         Evaluasi dapat dilakukan melalui rapat koordinasi dengan kepala sekolah dan guru.

 

 

C.      Hasil Aksi Nyata

1.        Gambaran Umum Program

Program kegiatan pembiasaan MADIMAPI sebagai bentuk kegiatan yang dilakukan setiap hari atau kegiatan harian di awal pelajaran maupun dikhir pelajaran. Sebelum di mulai pelajaran murid belajar memimpin untuk mengkondisikan seluruh temannya berada di kelas/lapangan. Murid meminpin dengan maju ke depan didampingi oleh guru.

Setelah memimpin kemudian memberikan kuis yang diberikan kepada teman-temannya. Yang berhasil menjawab kuis dengan tepat maka akan menjadi pemimpin pada kegiatan berukutnya.

2.        Deskripsi Pelaksanaan Program

Waktu Pelaksanaan dilakukan pada saat awal pelajaran dan akhir pelajaran setiap harinya.

3.        Strategi Pelaksanaan Program

Murid melakukan kegiatan pembiasaan MADIMAPI setiap harinya didampingi oleh guru PJOK berkolaborasi dengan guru kelas pada saat pembelajaran jam PJOK. Murid untuk belajar memimpin, menumbuhkan keberanian, keberanian dan kemandirian murid.

4.        Faktor Pendukung dan Penghambat Program

a.         Faktor-faktor pendukung pelaksanaan program adalah

1)        Koordinasi antara guru dan orang tua yang baik.

2)        Guru yang mempunyi komitmen penerapan karakter positif siswa

3)        Murid antusias untuk menjadi pemimpin.

b.         Faktor-faktor penghambat pelaksanaan program adalah

Dalam pelaksanaan aksi nyata ini secara umum berkangsung dengan baik dan mendapatkan hasil sesuai harapan, akan tetapi ada beberapa catatan yang menjadi bahan perbaikan  yaitu :

1)        Ada beberapa siswa yang tetap tidak mau untuk latihan memimpin

2)        Beberapa murid belum percaya diri

3)        Beberapa murid saling berebut untuk menjadi pemimpin

D.           Hasil Pelaksanaan Program

kegiatan pembiasaan untuk melatih kepemimpinan dan percaya diri yang berupa pemberian ruang kepada siswa untuk berlatih memimpin teman-temannya dan membiasakan siswa untuk percaya diri menyampaikan gagasan di depan teman-temannya dengan secara rutin melalui pembiasan MADIMAPI. hal ini dilakukan sesuai dengan jam olahraga masing-masing kelas setiap paginya. dari hasil tersebut siswa lebih antusias dan percaya diri meningkat. Kegiatan ini  juga disambut antusias oleh murid dan orang tua. Dokumentasi aksi nyata program kegiatan pembiasaan MADIMAPI mewujudkan Karakter mandiri, percaya diri, dan kepemimpinan sebagai berikut:



 

 

Feeling (Perasaan)

Murid makin bersemangat untuk memimpin dan memandu jalannya kegiatan pembiasaan serta menambah rasa percaya diri sebagai bentuk eksistensi diri mereka dalam melakukan kebaikan. Semua guru termotivasi untuk terus meningkatkan kualitas pendampingan kepada murid supaya bakat kepemimpinan dapat tersalurkan dengan baik.  Kebahagian tersendiri bagi guru yang telah berhasil menambah kecakapan anak dalam meningkatkan jiwa kepemimpinan dan rasa percaya diri.

Finding (Pembelajaran)

Masih ada beberapa murid yang tidak mau maju untuk memimpin teman-temannya. Bahkan ada beberapa murid berebut untuk memimpin tidak memperdulikan hasil kuis yang diberikan pada pertemuan sebelumnya. Perlu keterlibatan orang tua untuk memantau dan memotivasi anak-anaknya untuk dapat aktif menjadi pemimpin dikegiatan ataupun pada saat menerima kuis. Akan tetapi masih banyak orang tua yang tidak mengetahui kondisi anaknya. Mereka bersikap acuh tak acuh terhadap perkembangan kepercayaan diri anaknya. Banyak anak yang berasal dari keluarga pedagang yang berangkat pagi pulang sore sehingga anak kurang terperhatikan.

Future (Rencana Penerapan Ke Depan)

Jika anak sudah terbiasa memimpin di depan murid-murid lainnya akan menumbuhkan kepercayaan diri dan keyakinan diri pada anak. Mereka akan mampu menghadapi tantangan dan kondisi yang terjadi pada saat memimpin di depan. Memaksimalkan peran seluruh warga sekolah untuk mengsukseskan program kegiatan MADIMAPI di awal dan di akhir jam pelajaran. 

Program pembiasan MADIMAPI bukan termasuk acara gebrakan yang dilaksanakan hanya periode tertentu akan tetapi menjadi program yang akan dilaksanakan secara berkelanjutan dan terus menerus untuk memunculnya hal positif yaitu mandiri, percaya diri, dan mempunyai jiwa kepemimpinan. Peningkatan keaktifan peserta didik dalam kegiatan ini, mereka antusias dan saling bersaing untuk menjadi pemimpin.

E.       Refleksi dan Evaluasi

Kegiatan ini dievalusi setiap bulan sekali oleh kepala sekolah dan dewan guru

1.        Refleksi Program

a)         Diperlukannya komunikasi dengan orang tua murid terkait pentingnya anak mempunya jiwa mandiri, percaya diri, dan kepemimpinan.

b)        Berkolaborasi dengan orangtua untuk memantau anak-anaknya dalam membiasakan memimpin dan dipimpin.

c)         Melakukan coaching kepada murid yang tidak mau maju untuk memimpin teman-temannya.

d)        Adanya apresiasi kepada siswa yang berhasil menjawab kuis dan melaksanakan tugas memimpin dengan baik.

2.        Evaluasi Program

Sekolah memberikan apresiasi dan penghargaan kepada murid yang berhasil melaksanakan praktik kepemimpinan dengan baik, hal ini dilakukan untuk membangkitkan semangat murid-murid  lainnya.  Melakukan coaching  kepada murid yang tidak mau praktik memimpin. Mengarahkan Orang tua untuk memberikan motivasi kepada anaknya supaya berperan aktif dalam kegiatan MADIMAPI.

Program ini mungkin bagi sebagian orang tidak memiliki makna yang mendalam akan tetapi bagi murid SD Negeri 1 Selang akan memberikan pengalaman berharga dalam menumbuhkan karakter kemandirian, percaya diri, dan jiwa kepemimpinan pada diri anak. Murid yang memiliki pribadi-pribadi kuat memegang teguh ideology, keyakinan, budi pekerti dan kemandirian. Program yang akan berdampak pada murid. Program yang akan meningkatkan kompetensi sehingga siap berkompetisi baik secara lokal maupun global. Program yang meningkatkan keleluasaan baik spiritual, sosial, emosional, moral maupun intelektual bagi murid.

Semoga Bermanfaat

 


5 Oktober 2021

Aksi Nyata modul 3.2

 

Aksi Nyata 3.2.a.10

Achmad Hufron, S.Pd.Jas, M.Pd

CGP Angkatan 2 Kabupaten Kebumen

SDN 1 Selang

 

A.      Latar Belakang

           Kegiatan program pendidikan guru penggerak ditujukan untuk melakukan transformasi pendidikan, yaitu menciptakan pemimpin dalam pembelajaran. Pembelajaran yang dimaksud adalah pembelajaran yang berpusat pada murid yaitu memenuhi kebutuhan murid .Tujuan utama yang lainnya adalah bagaimana program ini akan melahirkan pelajar Pancasila yaitu pelajar yang memiliki karakteristik beriman dan bertakwa kepada Allah SWT dan berahlak mulia, memiliki kemandirian , kretaif, bernalarkritis, gotong royong dan berkebhinekaan global.

           Pengambilan keputusan juga merupakan langkah penting untuk menentukan program yang dapat dilaksanakan di sekolah terutama program yang berdampak pada murid .Karena hakekat dari pemimpin pembelajaran adalah pemimpin yang berpihak pada murid .Sebelum kita melakukan sebuah program yang berdampak pada murid maka langkah penting yang harus dilakukan adalah pemetaan aset yang dimiliki oleh sekolah .Pemetaan aset berpedoman pada prinsip inquiri apresiatif .Hal ini dilakukan karena seringnya kita membuat program berdasarkan kelemahan atau permasalahan yang ada sehingga aset atau kekuatan sekolah tidak tergali atau terlupakan. Setelah melakukan pemetaan asset diharapkan program yang dibuat adalah program yang dapat memberikan dampak pada murid sehingga akan melahirkan murid yang merdeka. Merdeka dalam arti, merdeka untuk belajar dan mengembangkan potensinya.

           Kepemimpinan merupakan hal yang harus ditumbuhkan pada diri seorang siswa. Jiwa pemimpin ini harus ditumbuhkan yaitu sejak masih di sekolah, hal ini dilakukan agar siswa kelak dapat mewarisi kepemimpinan bangsa bahkan dunia. Masa pembelajaran jarak jauh sekolah merupakan masa yang tepat bagi siswa untuk dapat mengasah jiwa kepemimpinan. Murid dapat menjadikan lingkungan masayarakat sebagai sarana praktek penerapan kepemimpinan. Maka akan didapatkan hasil bahwa salah satu sarana yang dapat dilakukan untuk mengasah jiwa kepemimpinan siswa selama di rumah adalah dengan membekali murid melalui kegiatan pembiasaan di kelas. Selain kepemimpinan, siswa juga diajarkan untuk pembiasaan karakter positifnya terutama peduli lingkungan hal ini dibiasakan dengan program “Operasi Semut”.

B.       Deskripsi Aksi Nyata

 Kegiatan aksi nyata ini berupa kegiatan pembiasaan kepemimpinan dan kegiatan “Operasi Semut”. Kegiatan ini berupa kuis yang dilakukan sebelum pelajaran dan operasi semut adalah bersama-sama membersihkan lingkungan secara serentak. Untukkegiatan kepemimpinan siswa dibiasakan secara bergantian untuk mepmpin dan dipimpin oleh teman-temannya.

C.      Hasil Aksi Nyata

Aksi nyata modul 3.2.a.10 yaitu kegiatan pembiasaan untuk melatih kepemimpinan dan cinta lingkungan yang berupa pemberian ruang kepada siswa untuk berlatih memimpin teman-temannya dan membiasakan siswa untuk mencintai lingkungan dengan secara rutin menjaga kebersihan lingkungan. hal ini dilakukan sesuai dengan jam olahraga masing-masing kelas setiap paginya. dari hasil tersebut halaman terasa nyaman, bersih dan indah untuk dipandang. Kegiatan ini  juga disambut antusias oleh murid dan orang tua. Disamping siswa lebih percaya diri. Juga lingkungan sekolah menjadi lebih bersih.

D.      Pembelajaran Yang Didapat

1.        Perasaan Saat Melaksanakan Aksi Nyata

Perasaan yang dirasakan saat merencanakan dan melaksanakan aksi nyata adalah merasa tertantang karena mengajak siswa untuk melatih kepemimpinan merupakan hal yang harus menguatkan mental. Sehingga sebelum pelaksanaan harus dapat menguatkan mental siswa supaya percaya diri untuk memipin temannya. Selain itu kebiasaan siswa sekarang yang sedikit manja menjadi tantangan sendiri ketika mengajak mereka untuk membersihkan lingkungan bersama-sama.

2.        Kendala/Hambatan

Dalam pelaksanaan aksi nyata ini secara umum berkangsung dengan baik dan mendapatkan hasil sesuai harapan, akan tetapi ada beberapa catatan yang menjadi bahan perbaikan  yaitu :

a.         Ada beberapa siswa yang tetap tidak mau untuk latihan memimpin

b.        Ada beberapa siswa yang merasa jijik dengan sampah dan mereka tidak mau ikut membersihkan lingkungan.

3.        Keberhasilan

Banyak keberhasilan yang didapatkan dari hasil aksi nyata ini diantaranya adalah:

a.         Meningkatkan kepercayaan diri siswa

b.        Lingkungan menjadi bersih

c.         Siswa menjadi peduli lingkungan

E.       Rencana Perbaikan

Rencana perbaikan yang dilakukan adalah :

1.        Pembiasaan lebih disosialisasikan kepada warga sekolah

2.        Hasil dokumentasi implementasi program kepemimpinan diupload ke media sekolah atau media social sebagai sarana sosialisasi

F.       Lampiran Kegiatan


 

 

 

 

                                         Latihan Memimpin

 


 


 

                   Peduli Lingkungan

15 September 2021

Koneksi Antar Materi Modul 3.1

 



KONEKSI ANTAR MATERI MODUL 3.1

PENGAMBILAN KEPUTUSAN SEBAGAI PEMIMPIN PEMBELAJARA

Oleh: Achmad Hufron (CGP Angk 2 Kab. Kebumen)



·         Bagaimana pandangan Ki Hajar Dewantara dengan filosofi Pratap Triloka memiliki pengaruh terhadap bagaimana sebuah pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin pembelajaran diambil?

Pratap Triloka yang digagas oleh Ki Hajar Dewantara yang terkenal  dengan semboyan ing ngarso sung toladha, ing madya mangun karsa, Tut wuri Handayani  artinya di depan memberi teladan, tengah membangun motivasi/dorongan, dibelakang memberi dukungan.  Berdasarkan hal tersebut diatas guru sebagai pemimpin pembelajaran sudah sepatutunya menerapkan pengambilan keputusan yang berpihak pada murid, dengan menerapkan 4 paradigma, 3 prinsip, dan 9 langkah pengambilan keputusan

·         Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?

·         Pada prosesnya “menuntun” anak akan diberi kebebasan  namun guru sebagai pamong dalam memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahanyakan dirinya. Seorang pamong dapat memberikan tuntunan  agar anak menemukan kemerdekaan dalam  yang akan berdampak  keputusan yang tepat  dan bertanggung jawab. Guru sebagai pemimpin pembelajaran tentu pernah mengalam idilema etika atau bujukan moral pada sebuah keputusan yang diambil saat menangani kasus murid  atau rekan sejawat  komunitas di sekolah, dengan mempertimbangan nilai benar vs benar (situasi yang terjadi ketika seseorang harus memilih antara dua pilihan diamana dua pilihan itu secara moral benar tetapi bertentangan), benar vs salah (seseorang membuat keputusan antara benar atau salah)

·         Bagaimana kegiatan terbimbing yang kita lakukan pada materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil. Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut. Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada modul 2 sebelumnya.

·         Dalam aspek pembelajaran dikelas guru sebagai pembawa agen perubahan harus bisa mengetahui kebutuhan belajar murid sekaligus sebagai memberi contoh yang baik bagi siswa memahami karakter belajar siswa serta kondisi social emosional sebagai pemimpin pembelajaran dikelas. Dalam hal ini juga untuk terciptanya profil pelajar Pancasila siswa  harus bisa menyelesaiakan sendiri persoalan belajarnya di kelas yang merupakan dilemma bagi mereka, dan di sinilah penting pendekatan Coaching, dimana guru sebagai coach memberi pertanyaan pemantik yang akan dijawab oleh siswa untuk menyelesaikan sendiri setiap persoalan yang dilaminya terutama yang merupakan dilema baginya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran selalu bersedia meluangkan waktu jika siswa membutuhkan, atau jika meihat ada perubahan belajar yang menurun pada siswa. Coaching dan itu tidak terlepas dari komunikasi yang baik antara coach dan coachee, Harapan coaching dapat mengatasai masalah belajar siswa.

·         Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik.

·         Seorang pendidik harus bisa melihat bagaiamana persoalan tersebut apakah merupakan dilemma etika atau merupakan bujukan moral, nilai-nilai yang yang akan diambilpun merupakan nilai yang merupakan proses kegiatan yang merupakan titik temunya adalah sebagai pemimpin pembelajaran tetap dengan berbagai cara akan menuntun siswa tersebut kearah yang lebih baik dalam pengambilan keputusan. Keptusan yang diambil merupakan keputusan yang bertanggung jawab.

·         Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman.

·         Pengambilan keputusan yang tepat sebagai pemimpin pembelajaran  tentunya akan berdampak postif, aman, dan nyaman apabila kita bisa melihat kondisi saat mana kita akan mengambil sebuah keputusan yang tentu yang jika itu adalah dilemma maka kita bisa meminimalisir delema tersebut agar dalam pengambilan yang bersifat dilemma itu tidak terlalu berpengaruh. Dan jika merupakan suatu bujukan moral kita harus pandai bahwa hal yang dilakukan salah dan nantinnya guru sebagai pemimpin pembelajaran akan dengan bijak membuat keputusan namum tertap membinmbing anak menujuh ke pengambilan keputusan tepat baik untuk guru maupun untuk siswa. Dalam hal ini siswa tetap merasa bahwa guru adalah seorang pemimpin yang mampu membuat situasi kondusif, aman dan nyaman di lingkungan sekolah maupun sekitarnya.

·         Selanjutnya, apakah kesulitan-kesulitan di lingkungan Anda yang sulit dilaksanakan untuk menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Apakah ini kembali ke masalah perubahan paradigma di lingkungan Anda?

·         Sebagai makluk social dan sebagai pemimpin pembelajaran dalam pengambilan suatu keputusan tidak akan luput dari dilema etika dan bujukan moral. Dilema etika merupakan  situasional, yaitu antara benar-benar  memegang  aturan demi suatu keadialan. Namun terkadang kita susah membedakan mana yang merupakan dilema etika dan bujukan moral, misalnya saja kasus berbohong yang sudah pasti merupakan tindakan salah , meskipun tujuannya baik tetap saja merupakan kesalahan.   Adapun hal yang perlu diperhatikan  sebelum mengambil sebuah keputusan dalam dilema etika, 4 paradigma yaitu: (1) Individu lawan masyarakat (individual vs community); (2) Rasa keadilan lawan rasa kasihan (justice vs mercy); (3) Kebenaran lawan kesetiaan (truth vs loyalty); dan (4) Jangka pendek lawan jangka panjang (short term vs long term). Selain itu ada tiga prinsip yang yang membantu menghadapi pilihan yang penuh tantangan (Kidder ,2009, hal 144) ketiga prinsip itu adalah: (1) Berpikir berbasis hasil akhir (ends-based Thingking);          (2) Berpikir berbasis peraturan (rule base thingking); dan (3) Berpikir berbasis rasa peduli (care base thingking).

·         Dan bagaimana cara mengujinya? Ini adalah  9 langkah yang telah disusun secara berurutan

1.         Mengenali ada nilai-nilaia yang saling bertentangan dalam situasi ini

2.         Menentukan siapa yang terlibat dalam situasi ini

3.         Kumpulkan fakta-fakta yang relevan dalam situasi ini

4.         Pengujian benar atau salah (Uji legal, Uji Regulasi/Standar Profesiaonal, Uji intuisi, Uji halaman Depan Koran, Uji Panutan/Idola )

5.         Pengujian paradigm benar atau salah

6.         Prinsip pengambilan keputusan

7.         Investigasi Opsi Trilema

8.         Buat keputusan

9.         Tinjau lagi keputusan Anda dan refleksikan

·         Dan pada akhirnya, apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita?

·         Sebagai seorang pendidik yang merupakan salah satu calaon guru penggerak  saya merasa terbantu dengan penjelasan materi dari modul 3.1 sebab sebelumnya kita sering menemukan dilema namun kita belum bisa mamaneg sebuah keputusan dengan baik baik terutama saat menemuka masalah belajar pada siswa, dengan semua materi yang telah dipelajari dari modul pendidik sudah seharusnya meberikan keputusan yang bersifat positif, membuat siswa merasa nyaman, dan tenang. Semuanya dilakukan untuk  memerdekan siswa dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan belajar mereka.

·         Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?

1.         Dengan memberi nilai-nilai positif, menciptakan rasa nyaman pada siswa merupakan motivasi seorang pendidik  dalam mengambil keputusan. Seorang pendidik dengan berbagai cara pasti akan memberikan yang terbaik untuk siswanya oleh karena itu keputusan yang baik pula untuk perkembangan siswanya.

2.         kesimpulan akhir yang dapat ditarik dari pembelajaran  modul materi ini dan keterkaitan dengan modul-modul sebelumnnya.

·         Apakah kesimpulan akhir  yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?

·         Pengambilan Keputusan Sebagai Pemimpin Pembelajaran dengan modul-modul yang telah dipelajari sebelumnya merupakan suatu tidak terpisahkan untuk mencapai kemerdekaan dalam belajar pada murid, Ki Hajar Dewantara dalam menuntut segala proses dan kodrat/potensi anak untuk mencapai sebuah keselamatan dan kebahagiaan belajar, baik untuk dirinya  sendiri, sekolah maupun masyarakat. Selain itu juga dimana proses pembelajaran di seorang pendidik harus bisa melihat kebutuhan belajar pada anak serta mengelolah kompertensi social emosional dalam mengambil sebuah keputusan sebagai pemimpin pembelajaran. Pendekatan Coaching juga merupakan salah satu pendekatan yang  membantu siswa dalam mencari solusi atas masalahnya sendiri dan hal inilah yang merupakan salah satu trik sebagai seorang pendidik bisa mengetahui permasalahan yang dialami oleh siswa lewat pertanyaan-pemantik saat coaching. Sebagai seorang guru penggerak juga harus mengetahui permasalahan yang dialami oleh rekan sejawat dalam proses pembelajaran dan coahing dapat menemukan jawaban atas setiap pertanyaan untuk menemukan solusi maka terciptalah budaya postif pada lingkungan belajar di sekolah dan komunitas praktisi. Para pendidik yang mampu membuat keputusan sebagai pemimpin pembelajaran merupakan cita-cita guru masa depan, dan proses pengambilan keptusan berdasrakan dilema etika.

·          

 


Tentang Ki Bodronolo

Sejarah Singkat Ki Bodronolo di Kebumen Penyedia Logistik Mataram: Pada tahun 1628–1629, Sultan Agung mengerahkan pasukan untuk menyerang k...